Garasi Pemikiran

Foto Postingannya dengan Aslinya Beda, Memang Dunia Maya Tak Seindah Realita

Penulis: Ismi Istiqomah Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah Bidang Ipmawati

Sosial media seakan menjadi subtitusi untuk semua hal yang tidak bisa kita dapatkan dikehidupan nyata. Entah karena kita kesulitan mendapat teman, ada permasalahan atau sesederhana kita ingin mendapat pengakuan dari oranglain untuk memberikan rasa kebahagiaan pada diri sendiri. Padahal itu sangat berbeda dengan kita membangun sebuah hubungan dengan seseorang yang mungkin memerlukan waktu yang lama dengan orang yang hanya kita follow disosial media.

Segala yang kita lihat di sosial media adalah hal-hal yang sudah di filter sebelumnya. Akhirnya yang kita lihat adalah hal-hal yang terlihat sempurna, mewah, tanpa masalah dan lain sebagainya. Hal itu menjadikan kita selalu membandingkan diri dengan apa yang kita lihat disosial media, dampaknya adalah kita bisa menjadi rendah diri (inferior). Mungkin ketika kita bisa mereduksi hal tersebut, kita dapat mengembangkan potensi yang kita miliki bahkan kita dapat melebihi orang tersebut.

Sosial Media Bisa Menjadi Digital Drugs

Semakin lama, hari ini penggunaan sosial media seperti adiktif layaknya narkoba. Meski terdengar mustahil, sosial media bisa menjadi digital drugs. Perubahan structural dapat terjadi dalam hidup kita. Contohnya semakin bertambahnya like atau viewers rasanya semakin menyenangkan. Ketika kita meninggalkan gawai untuk beberapa saat, mulailah muncul keresahan-keresahan seperti withdraw symtomps (sakaw) akankah bertambah feedback yang kita harapkan tadi.

Hal lain dari digital drug adalah endless scrolling yang ternyata menghabiskan waktu berjam-jam tanpa kita sadari. Sebenarnya hal ini menjadi stimulus yang luar biasa banyak kedalam otak kita yang sebenarnya otak kita belum tentu siap untuk menerima stimulus sebanyak itu. Hal itu menyebabkan adiksi yang membuat kita ingin terus menemukan hal yang baru.

Harus Detox Informasi

Setiap saat kita merekam semua hal yang terjadi, dan itu masuk kedalam alam bawah sadar kita sehingga semakin menumpuk, jika kita tidak berhati-hati dengan apa yang kita masukan itu semua akan menjadi sampah pikiran yang tidak berguna untuk kita. Maka dari itu detox menjadi penting untuk memilih informasi apa yang masuk dalam pikiran kita.

Jangan biarkan sosial media menguasai hidup kita. Kita harus bijak dalam menggunakannya, hati-hati dengan peer pressure atau dorongan dari luar untuk mengharuskan kita memposting sesuatu. Mari fokus dengan hal-hal yang kita miliki dengan diri kita tanpa harus membandingkan dengan orang lain.

Ini yang pelu diperhatikan untuk percaya diri

Menurut Maslow ada 5 langkah untuk kita menjadikan kita merasa puas dengan diri sendiri :
1. Kebutuhan biologis (makanan, pakaian),
2. Keamanaan (kebutuhan keamanan, memiliki pekerjaan)
3. Hubungan sesama manusia (dicintai, hubungan dengan keluarga)
4. Saling menghargai
5. Pengaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *